Jumat, Oktober 10, 2025
Sunnah Sunnah Khutbah Jumat
Jumat, Juni 27, 2025
Khutbah Jumat di Masjid At-Taufiq Mojokerto (Ustadz Syaiful Anwar/Zainul Asyrori) dan Khutbah Jumat di Semua Masjid di KL/Putrajaya (Semua Khotib)
Khutbah Jumat di Masjid At-Taufiq Mojokerto (Ustadz Syaiful Anwar dan Zainul Asyrori) (Indonesia)
Setiap Jumat di Siang, Masjid At-Taufiq Mojokerto Selalu Mengadakan Sholat Jumat dengan Khutbahnya yang dibacakan Oleh 2 Ustadz yang Kerap hadir di Jumat Pon dan Juga Jumat Pahing, Yakni Ustadz Syaiful Anwar dan Zainul Asyrori. Teks Khutbah Jumatnya pun Memakai Lembar Kertasnya. Diawali dengan Membacakan Tarqiyah oleh Bilal Sholat Jumat. Saat Akhir Membacakan Tarqiyah, Bilal Sholat Jumat Mengumandangkan Sholawat 3x. Lalu, Khotib Mengucap Salam Sebelum Adzan Kedua Jumat. dan Setelahnya, Membacakan Khutbah sambil Memegang Tongkatnya. Untuk Ustadz Syaiful Anwar yang Kerap hadir di Jumat Pon, Boleh Dibacakan dan Harus ada (atau Tidak ada) Kata "Takwa" dan "Perintah"nya di Awal Mukadimah. Tema-Tema dalam Khutbah Jumat yang Dibacakan Ustadz Syaiful Anwar Adalah Bulan Mulia yang Biasanya ada di Bulan Rabiul Awal, Evaluasi di Ramadhan lalu dan Hikmah di Jumat Terakhir di Tahun 1446H lalu (tepatnya pada Tanggal 20 Juni lalu). Setelah Membacakan Khutbah yang Pertama oleh Ustadz Syaiful Anwar, Khotib Jumat Pon di Masjid ini Duduk Sebentar Sambil Melantunkan Sholawat saat Duduk Diantara Khutbah Jumat. Sementara itu, Khotib Berdiri Kembali dan Membacakan Khutbah Jumat Keduanya. Doanya di Khutbah Kedua Jumat ala Ustadz Syaiful Anwar adalah Doa buat Mukminin dan Mukminat. Lalu, Membacakan Robbana Atinna Langsung Ibadallah dan An Nahl 90 serta Doa Penutup Khutbah Setelah An Nahl 90. Sebenarnya Sih, Khutbah Jumat yang Jumat Pon yang Ustadz Syaiful Anwar itu Sangat Singkat, Karena Khutbah Jumat yang Sangat Singkat itu Sesuai dengan Anjuran Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW dan Rasulullah Memerintahkan Khutbah Jumat yang Durasi Singkat dan Memanjang Waktu Sholat Jumatnya. Sebagaimana dalam Hadits Riwayat Muslim dan Abu Daud (dikutip dari NU Online),
"Sholat dan Khutbah Nabi itu Sedang, Yakni Tidak Kelamaan dan Tidak Cepat. (HR Muslim Abu Daud)"
Sedangkan Apa yang Dikatakan Syekh Abu Tayyib Syamsul Haq Al-Azhim:
"Maksudnya Khutbah Sedang adalah Seimbang saat Khutbah dan Tidak Memanjangkan Khutbah. Sholat dan Khutbah Nabi dilakukan dalam Durasi Sedang, agar Manusia Tidak bosan. Hadits ini Menganjurkan Meringkas Khutbah, dan Tidak ada Perbedaan Pendapat dalam Hal Tersebut. (Aun Al-Ma'bud Juz 3, Hal. 316)"
Lalu, Menurut Hadist Ammar bin Yasir:
"Aku Mendengar Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Panjangnya Sholat seseorang dan Ringkasnya Khutbah merupakan Tanda Kefaqihannya. (Shahih Muslim, Kitabul Jum'at nomor 869 dan Bulughul Maram nomor 477)"
dan Apa yang Dikatakan Jabir bin Samurah Radhiallahu 'anhu:
"Saya Pernah Sholat (Jumat) bersama Rasulullah SAW, lama Sholat dan Khutbah beliau adalah Qashd (Pertengahan, Tidak terlalu Panjang atau Terlalu Pendek). (HR. Muslim no. 866)"
Berarti Pernyataan Keempatnya diatas Tadi adalah Durasi Ideal Khutbah Jumatnya Ustadz Syaiful Anwar di Masjid At-Taufiq Mojokerto Saban Jumat Pon adalah "Sedengan" alias "Seimbang" alias Sangat Singkat (Merujuk pada Website NU Online juga)! Semestinya Durasinya adalah 8-9 Menit Saja (atau Melebihi?). Lalu, Setelah Melaksanakan Sholat Jumat di Jumat Pon di Masjid ini, Ustadz Syaiful Anwar Membacakan Al Fatihah 3x, Al Ikhlas 3x, Al Falaq 3x dan An Naas 3x. Selain Ustadz Syaiful Anwar, Ustadz Zainul Asyrori Membacakan Khutbahnya di Jumat Pahing. Setelah Adzan (Kedua Jumat) Selesai, Khotib yang Biasanya Muncul di Jumat Pahing tersebut Mulai Membacakannya dan Menggunakan Kata "Takwa" dan "Perintah" di Awal Mukadimah. Lalu, Membacakan Khutbahnya dengan Tema-Temanya yang Berhubungan dengan Keislamannya (seperti Membahas Panduan Ibadah Haji yang dilakukan pada 30 Mei lalu). Setelahnya, Duduk Sebentar diantara 2 Khutbah Sambil Melantunkan Sholawat yang Sama Seperti Ustadz Syaiful Anwar. Lalu, Khotib di Jumat Pahing tersebut Membacakan Khutbah Keduanya, Lalu Membacakan Al Ahzab Ayat 56 di Khutbah Kedua Jumat. Setelahnya, Membacakan Doa yang Sama (Mukminin dan Mukminat), Lalu Membacakan Robanna Atinna Langsung Ibadallah dan An Nahl 90 dan Akhir Sekali, Melantunkan Doa Setelah An Nahl 90 di Akhir Khutbah Jumat Kedua. Setelah Sholat Jumat Selesai, Khotib dan Imam Jumat Pahing di Masjid At Taufiq Mojokerto Membacakan Al Fatihah Sekali dan Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas 1-3x. Bahasa yang Digunakan 2 Khotib Jumat di Masjid At-Taufiq Mojokerto Setiap Jumat Pon dan Pahing adalah Bahasa Indonesia dan Arab. Selain Keduanya yang Disebutkan Tadi, Khotib-Khotib lainnya yang Membacakan Khutbah di Masjid ini adalah KH. Achmad Syafi'i Luthfin (Kliwon), Imam Syafi'ie (Wage, Kan Sebagiannya Pakai Bahasa Daerah), Rusman Hadi (Legi), Imron (Pon, Meneruskan Syaiful Anwar, Gantian lah) dan Ma'arif (Pahing, Meneruskan Zainul Asyrori, Gantian Juga).
Khutbah Jumat di Masjid-Masjid di KL/Putrajaya (Malaysia)
Setiap Jumat di Siangnya, Masjid-Masjid di KL dan Putrajaya seperti Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin, Putra, Negara Federal KL, Bukit Aman KL (Masjidnya Polisi Malaysia) dan Nasional KL Selalu Mengadakan Sholat dan Khutbah Jumat. Untuk Siaran Langsungnya bisa disaksikan Melalui RTM TV1 Setiap Jumat Setelah Program Lisanul Haq yang Tayang Setiap Jumat pukul 12.30 Waktu Setempat (11.30 WIB) + Filler yang durasinya Kelamaan Menjelang Sholat Jumat (kisaran 8-16 Menit) yang Merujuk pada Jadwal TV di Koran The Star Malaysia, EPG Astro dan Aplikasi RTM Klik. Khotib-Khotib dari Negeri Jiran Malaysia Semestinya Membacakan Khutbah Sholat Jumatnya. Sebelum Membacakan Khutbah Jumat dari Berbagai Khotib-Khotib Malaysia, Adzan Jumat Hingga 2 Kali. Setelah Adzan Selesai dan Sebelum Adzan Kembali dikumandangkan lagi, Tidak ada Pembacaan Tarqiyah. Lembar Teks Khutbah Jumat yang di KL dan Putrajaya (Malaysia) Memang diatur Sepenuhnya oleh JAKIM, Tapi Teks Khutbah ini 99% Mirip dengan Lembar Teks Khutbah Jumatnya Ustadz Syaiful Anwar dan Zainul Asyrori yang di Masjid At-Taufiq Mojokerto. Durasi Khutbah Jumatnya di Masjid-Masjid di KL/Putrajaya Agak Diperpanjang (Seperti di Timur Tengah) atau Diperpendek (Seperti Khutbah Jumatnya Ustadz Syaiful Anwar di Jumat Pon). di Awal Pembacaan Khutbah Pertamanya, Khotib Harus Membacakan Hamdalah dan Menggunakan Kata "Bertakwa" dan "Perintah" serta Semua Jamaah Sholat Jumat yang Mendengar Khutbahnya Tidak Boleh Melakukan Banyak Omongan dan Juga Bermain Smartphone. Lalu, Sebelum Membuka Tema dan Bahasan Khutbah Jumatnya (dari JAKIM), Semua Khotib/Jamaah Sholat Jumat di Semua Masjid-Masjid di Sekitar KL/Putrajaya Ingin menghimbau untuk Saudara Muslim di Malaysia yang Ingin Memanjatkan Doa untuk Melindungi, Menyelamatkan dan Memenangkan Perang Palestina agar Bisa Meraih Kemerdekaan. Doa Buat Palestina itulah Agar Bisa Selamat dari Ancaman Perang Sejak Hampir 2 tahun Terjadi Perang Besar (7 Oktober 2023, dan Kini, Masih di Perang Besar Rezim Isra*l bersama Iran dan AS yang Sudah dilanda di Bulan ini). Tema-Tema yang Dibahas di Khutbah Jumat yang di Masjid-Masjid se KL dan Putrajaya Seperti Temanya Geliat (Perang) Palestina, Sejarah Kemerdekaan Malaysia, Kemeriahan Ramadhan, Sang Guru, Perayaan Tahun Baru Islam yang Jatuh Hari ini, dll. Sebelum Berakhirnya Khutbah Jumat Pertama, Ada 3 Kesimpulannya termasuk Pembacaan 1 Ayat Al Quran. Tapi Jika Menjadi Khutbah yang Sangat Singkat di Hari Jumat, Maka 3 Kesimpulan pasti Dihapus dan Tetap Membacakan Salah Satu ayat suci Al Quran. Sedangkan, disaat Khotib lagi Duduk diantara Khutbah, Tidak ada Melantunkan Sholawat Sama sekali. Setelahnya, Sang Khotib di Masjid-Masjid di KL dan Putrajaya Membacakan Khutbah Kedua Jumat. disaat Pembacaan Khutbah Jumat Kedua, Khotib Jumat di Masjid-Masjid di Sekitar KL/Putrajaya Semestinya Membacakan Al Ahzab ayat 56, Kemudian Membacakan Doa untuk Kaum Mukminin dan Mukminat, Menyebutkan Nama Raja dan Ratu Malaysia saat ini (Sultan Ibrahim dan Raja Zarith Sofiah) di Doa Khutbah Jumat Kedua. Lalu, Membacakan Doa untuk Palestina dan Gaza Sebelum Robanna Atinna dilakukan di Akhir Khutbah Jumat Keduanya. Doa di Khutbah Kedua Jumat Sebelum Robanna Atinna langsung Ibadallah + An Nahl 90 di Masjid-Masjid di Wilayah KL dan Putrajaya adalah isinya Doa untuk Rakyat Palestina yang Ingin Menang dan Merdeka dari Perang yang Terjadi sejak 7 Oktober 2023 silam. Kemudian Membacakan Robanna Atinna Langsung Ibadallah dan An Nahl 90 serta Melantunkan Doa Penutup Setelah An Nahl 90. Setelahnya, Melaksanakan Sholat Jumat 2 Rakaat dan Setelah Selesainya Sholat Jumat, Membacakan Dzikir. disaat Khutbah Jumat, Khotib-Khotib Jumat di Masjid-Masjid di KL dan Putrajaya Harus Menggunakan Tongkat Khutbah dan Menggunakan 2 Bahasa baik Melayu dan Arab. dan di Tanggal 11 Oktober 2024, di Masjid Putra Putrajaya Khotib Jumat di Masjid ini diisi Oleh Khotib dari Arab Saudi dan Menyampaikan Khutbahnya Sama seperti di Arab Saudi (Ketika lagi Berumrah). Sekedar Info, Rakyat Malaysia masih dalam Solidaritas untuk Palestina Sejak Berperang besar pada 7 Oktober 2023 silam, Dimana, Banyak Sekali Event-Eventnya untuk Bersolidaritas Palestina bagi Semua Warga Malaysia. Event-Event besar pun Berkali Kali Ditunda atau Tidak (Tetap Digelar) karena Ada Geliat Palestina. Jika dulu pada Juli-Agustus 2023 dilanda Fenomenalnya Film Barbie yang Biasanya diputar dibioskop pada 20 Juli 2023.
Itulah tadi, Perbandingan antara Khutbah Jumat di 2 Negara Serumpun antara Indonesia (Masjid At-Taufiq Mojokerto) dan Malaysia (Masjid-Masjid di KL dan Putrajaya). Semoga Tulisan di Blogku Pasti Bermanfaat dan Berkah... Insya Allah!
Kamis, Desember 05, 2024
Mengenal 1 Ayat yang Mendidik di Akhir Khutbah Jumat yang Sangat Singkat (An Nahl 90)
Besok, Kita Mau Jumat, Karena kan Hari Besar Umat Muslim yang Pekanan... Ada yang Melaksanakan Sholat Jumat untuk Pria-Pria dan Ada yang Mengadakan Ngaji alias Majelis Ta'lim Malam Sabtu Rutinan yang Biasanya dilangsungkan Setiap Jumat Malam di Musholla. Yuk Kita Simak Asal Mula Ayat yang Mendidik yang Biasanya Muncul di Akhir Khutbah yang Sangat Singkat (seperti yang dikatakan Ustadz Syaiful Anwar Sebelum Duduk Diantara Khutbah Setiap Jumat Pon Siang di Masjid At-Taufiq Mojokerto) Setiap Jumat dan Khutbah di Perayaan Syawal (Hari Raya Lebaran) dan Zulhijjah (Hari Raya Haji) Setiap Tahunnya.
Ketika Zaman kekuasaan Bani Umayyah atau Kekhalifahan Umayyah (kekhalifahan Islam pertama setelah Masa Khulafaur Rasyidin, yang Memerintah dari 661M-750M di Jazirah Arab dan Sekitarnya), wacana Ujaran Kebencian dengan Caci Maki terhadap Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah (wafat 661M di Kufah Irak) direproduksi Melalui Mimbar-Mimbar Khutbah Jumat. Semuanya bermuara Faktor Kesinambungan Politik yang Berbeda. Bahkan, Sudah menjadi Kebiasaaan para Khatib masa itu, Ketika Menutup Khutbah dengan Mencaci Maki Menantu dan Sepupu Rasulullah SAW itu. Gerakan Provokasi ini Cukup Efektif dan Meluas di Daerah Kekuasaan Dinasti Umayyah, Sehingga Membuat Kegaduhan ditengah Kaum Muslimim.
Namun Demikian, Situasi Sosial dan Politik berubah Signifikan, Ketika Kekhalifahan Bani Umayyah dipimpin Sayyidina Umar bin Abdul Aziz Umar II Rahimahullah (2 November 682M/26 Safar 63H di Madinah - 5 Februari 720M/20 Rajab 101H dalam Usia 37 tahun dimakamkan di The Cathedral of St. Simeon Stylite, Aleppo Suriah) yang Memerintah tahun 717-720M, dari Bani Umayyah cabang Marwani. Putra dari Abdul Aziz bin Marwan (647-705M) dan Laila binti Ashim bin Umar bin Khattab Ra. Meskipun menjabat Hanya Sebentar, Kurang lebih 2 tahun 137 hari Sebagai Khalifah, Banyak Sekali prestasi inovatif yang dicapainya, hingga beliau begitu Dicintai oleh Rakyatnya dan Mencapat Sebutan "Khulafaur Rasyidin Kelima". Umar bin Abdul Aziz, selain sebagai Umara Khalifah, ia juga Orang Saleh, yang juga Merupakan Cicit dari Khalifah Kedua, Yaitu Sayyidina Umar bin Khattab Ra (wafat 3 November 644M, Masjid Nabawi Madinah). Budaya Caci Maki dan Ujaran Kebencian di Mimbar-Mimbar Khutbah dihentikan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Maka, ia Melarang Mimbar Jumat dijadikan Tempat dan Ajang Kampanye Politik, Ujaran Kebencian, Caci Maki dan Hoaks. Beliau Lantas Menyisipkan Ayat 90 dari Surat An Nahl dalam Setiap Khutbah Jumat.
Menurutnya, Jumat adalah Sayyidul Ayyam, Hari Agunng Penghulu Hari, Bagi umat Islam. Sholat Jumat dan Khutbah Jumat adalah Momen Ibadah yang Penting, Karena pada Waktu Itu umat Islam sedang berkumpul. Pesan Ketakwaan Harus diutamakan karena Menjadi Salah Satu Rukun Khutbah. Dari Umar bin Abdul Aziz memerintahkan untuk Menggunakan Surat An Nahl Ayat 90 sebagai Penutup Khutbah Jumat Terakhir. Terobosan yang Berani tersebut, Kemudian menjadi Tradisi Penutup Khutbah hingga Sekarang, Terutama dijadikan Tradisi Penutup Khutbah oleh NU hingga Sekarang. Sejarah tersebut, Ditulis salah satunya oleh Syaikh Muhammad bin Ahmad Ad-Dasuqi Al-Maliki Rahimahullah (wafat 1230H/1814M), dalam kitab Hasyiyah Ad-Dasuqi alasy Syarhil Kabiir menerangkan bahwa, Pada Saat-Saat yang Menggelisahkan umat Islam kala itu, Umar bin Abdul Aziz membuat suatu Terobosan. Ia adalah Orang yang Pertama kali Membaca Surat An Nahl Ayat 90 sebagai Penutup Khutbah yang Sebelumnya diisi dengan Kata-Kata Kasar.
Ayat tersebut cukup Akrab ditelinga Kaum Muslimin, Yaitu :
Riwayat yang Hampir Sama, Juga Disebutkan oleh Al Imam Al Hafidh Al Muhaddits Al Mufassir Jalaluddin Abdurrahman bin Kamaluddin Abu Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin Al Misri As Suyuthi Asy Syafi'i Al Asy'ari atau Imam As Suyuthi Rahimahullah (3 Oktober 1445M-18 Oktober 1505M, Kairo, Mesir) dalam Kitab Tarikh Khulafa (Sejarah Para Khalifah) halaman 182 Sebagai Berikut :
Banyak yang Mengerti
Ayat yang Mulia ini, Seringkali dikutip oleh Para Khatib Jumat pada Waktu Khutbah yang Kedua. Anehnya, Banyak Jamaah Jumat yang Langsung terbangun Mengangkat Kepala dan Memelekkan Mata mendengar Ayat ini, Karena Sadar Bahwa Khutbah akan Segera berakhir. Sayangnya, Ayat yang Sangat Penting ini berlalu begitu saja ditelinga, Tanpa ada Upaya untuk Merenungi dan Memahaminya. Jika Diperhatikan Surat An Nahl ayat 90 ini, Mendidik dan Mengantarkan Kita (para Pecinta Al Quran) kepada Sumber inspirasi terbaru bahwa terdapat 3 Sumber Kebaikan yang Harus Diterapkan dalam Setiap Ranah Kehidupan, dan juga 3 Sumber Kejahatan yang Harus Dijauhkan dari Setiap Lini Kehidupan.
Ayat ini Merupakan Kaidah, dimana Masalah Juz'iyyah (Satuan) masuk ke Dalamnya. Oleh Karena itu, Setiap Perkara yang Mengandung keadilan, ihsan dan Memberi kepada kerabat, Maka hal ini Termasuk yang Diperintahkan Allah, Sedangkan setiap perkara yang Mengandung Perkara Keji, Munkar atau Zalim kepada Manusia, Maka hal ini termasuk yang dilarang Allah SWT. Mahasuci Allah, yang Menjadikan dalam Firmannya Petunjuk, Cahaya dan Pembeda antara Hak dan Batil.
Umat bin Abdul Aziz dengan Demikian telah Membuat Langkah Cerdas dan Arif. Ia Membuat Tradisi baru dengan Muatan Pesan yang Sangat Substansial dan Universal. Ayat ini Masih terdengar sampai Sekarang di Mayoritas Mimbar Khutbah Jumat (termasuk Idul Fitri dan Idul Adha) diberbagai Belahan Dunia.
Jadi Kesimpulannya, Surat An Nahl 90 jadi Ayat Mendidik di Saat Akhir Khutbah yang Sangat Singkat di Setiap Jumat, Baik di Indonesia (di Masjid At-Taufiq Mojokerto) dan Malaysia (di Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin Putrajaya). Sebenarnya Sih, Kalau Saat Khutbah Sangat Singkat Setiap Jumat mau Selesai, An Nahl 90 memberikan 3 Perintah Kebaikan dan Larangannya agar Bisa Diberi Pelajaran!
Wallahualam...
Source :
Facebook Sarinyala.id, Laduni, Khutbah Sholat Jumat Ustadz Syaiful Anwar di Masjid At-Taufiq Mojokerto dan Khutbah Sholat Jumat di Masjid Tuanku Mizan Zainal Abidin Putrajaya/WPKL
Rabu, Januari 25, 2023
Kedatangan Sholat Jumat dan Khutbah Jumat Pakai Tongkat
Salam 3 Rajab, Nah, 2 Hari Lagi Kita Sudah Masuk Hari Jumat, jadi Semua Cowok-Cowok Bisa datang Ke Masjid untuk Melaksanakan Sholat Jumat Setiap Jumat. Mari Kita Bahas Keduanya...
Setiap Jumat, Umat Muslim yang Lelaki Tampan Itu Bersegera Melaksanakan Sholat Jumat. Seandainya, Orang yang Mau datang ke Masjid yang Dijadikan Sholat Jumat dari yang Pertama bisa Mendapatkan Unta, yang Kedua dapat Sapinya, yang Ketiga, Kambingnya, yang Keempat, ada Ayam jadi Hadiah dan yang Terakhir, Telor! Bahkan, Malaikat Datang di Masjid untuk Mendengarkan Khutbah Jumat yang Memakai Tongkat oleh Sang Khatib. Itulah Cerita dari Musnad Imam Ahmad yang Mengenai Datang Jumatan dengan Unta, Sapi, Kambing, Ayam dan Telor kayaknya. Walaupun, Banyak Orang yang Datang Jumatan, Tapi Ada Malaikatnya yang Mencatatnya dan Ada Khutbah yang Didengar Malaikat, Malahan Khotib yang Didengar dari Malaikat Itu Memegang Tongkat saat Khutbah Sebelum Sholat Jumat, tapi Apakah Ada Sunnahnya? Yuk Kita Simak Penjelasan Keduanya.
Datangnya Sholat Jumat Itu, Ada Macam-Macam. Ini Penjelasan dari Musnad Imam Ahmad yang Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu:
"Nabi SAW Bersabda, Jika Tiba Hari Jumat, Maka Para Malaikat berdiri di Pintu-Pintu Masjid, Lalu mereka Mencatat orang yang datang lebih awal Sebagai yang Awal. Perumpamaan Orang yang datang paling awal untuk Melaksanakan Sholat Jumat adalah Seperti orang yang Berkurban Unta, Kemudian yang Berikutnya seperti Orang yang Berkurban Sapi, dan yang Berikutnya Seperti Orang yang Berkurban Kambing, Yang Berikutnya lagi Seperti Orang yang Berkurban Ayam, Kemudian yang Berikutnya Seperti Orang yang Berkurban Telur. Maka, Apabila Imam Sudah Muncul dan Duduk Diatas Mimbar, Mereka Menutup Buku Catatan Mereka dan Duduk Mendengarkan Dzikir (Khutbah)."
Walaupun Imam Muncul dan Duduk Karena Mendengarkah Khutbah yang Memakai Tongkat, Bisa Jadi Sunnahnya, Karena Orang Orang yang Datang ke Tempat Sholat Jumat Itu Berkurban dengan Banyak Sekali. Penjelasan Tentang Imam Muncul dan Mendengarkan Khutbah Jumat Memakai Tongkat yang Ditulis Diatas Berdasarkan Pernyataan atau Komentar dari Hadis atau Riwayatnya Sunan Abi Dawud Tentang Sunnahnya Memakai Tongkat Saat Imam Melaksakan Khutbah Jumat yang Didengar Banyak Malaikat di Masjid.
Dari Syu'aib bin Juraidj at-Tha'ifi ia Berkata : "Kami Menghadiri Sholat Jumat pada Suatu Tempat Bersama Rasulullah SAW, Maka Beliau Berdiri Berpegangan pada Sebuah Tongkat atau Busur" (HR Abu Dawud 824)
Menurut Pernyataan Diatas Tadi, Memegang Tongkat Saat Khutbah Jumat yang Didengar Banyak Malaikat yang Menutup Catatan yang Dikutip dari Musnad Imam Ahmad yang Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu adalah Sunnah. Sunnah Tersebut Bisa Seperti Sunnah Sunnah Rasul lainnya, Seperti Tahajjud, Membaca Al Quran Setiap Harinya, Dzikir Setelah Sholat, Menjaga Sholat Rawatib, Dzikir Pagi dan Sore, Jangan Tinggalkan Masjid, Menjaga Sholat Dhuha, Jaga Sedekah Tiap Hari, Menjaga Wudhu dan Amalkan Istighfar ditambah Puasa Senin dan Kamis! Bukan Cuma Itu, ada Juga Pernyataan dari Imam Syafi'ie dari Kitab Al Umm 1 Mengenai yang Sama.
Imam Syafi'i RA Berkata : "Telah Sampai Kepada Kami (Berita) Bahwa Rasulullah SAW Berkhutbah, Beliau berpegang Pada Tongkat. Ada yang Mengatakan, Beliau Berkhutbah dengan Memegang Tongkat Pendek dan Anak Panah. Semua benda-benda itu Dijadikan Tempat Bertumpu. Ar-Rabi' Mengatakan dari Imam Syafi'i dari Ibrahim, dari Laits dari 'Atha', bahwa Rasulullah SAW jika Berkhutbah Memegang Tongkat Pendeknya untuk Dijadikan Pegangan." (Al Umm Juz 1 Hal. 272)
Pernyataan dari Imam Syafi'e diatas, Orang yang Membacakan Khutbah Jumat yang Didengar dari Banyak Malaikat Itu Menggunakan Tongkat Macam-Macam, seperti Tongkat Pendek, Anak Panah dan Lain-Lain. Ada Pernyataan Lagi yang Dibuat Sama Imam Ghazali.
"Apabila Muadzin Telah Selesai (Adzan), Maka Khatib Berdiri Menghadap ke Jama'ah Dengan Wajahnya. Tidak Boleh Menoleh ke Kanan dan ke Kiri. dan Kedua Tangannya Memegang Pedang yang Ditegakkan atau Tongkat Pendek Serta (Tangan yang Satunya Memegang) Mimbar. Supaya Dia Tidak Mempermainkan Kedua Tangannya. (Jikalau Begitu) atau Dia Menyatukan Tangan yang Satu dengan yang Lain." (Ihya Ulumuddin)
Menurut Subulus Salam Juz 2: "Hikmah Dianjurkannya Memegang Tongkat Adalah untuk Mengikat Hati (Agar Lebih Konsentrasi) dan Agar Tidak Mempermainkan Tangannya." Menurut Website Nu tahun 2008 silam:
"Jadi Seorang Khatib disunnahkan Memegang Tongkat Saat berkhutbah. Tujuannya, Selain Mengikuti Jejak Rasulullah SAW juga Agar Khatib lebih Konsentrasi dalam Membaca Khutbah".
Itu Tadi, Penjelasan Datangnya Orang yang Pergi Sholat Jumat dengan Berkurban Unta, Sapi, Kambing, Ayam dan Telor dan Hikmahnya Memakai Tongkat Ketika Khutbah Jumat ataupun Sholat Idul Fitri dan Adha. Jadinya Imam yang Mendengarkan Khutbah Jumat Memakai Tongkat dan Bisa Lebih Konsentrasi Karena Jadi Sunnah! Semoga Bermanfaat...
Sumber : iNews.id, assalam.id dan Republika.co.id

